KRI Dewaruci

KRI Dewarutji

Barquentine atau Schooner Barque merupakan jenis kapal layar dengan tiga atau lebih tiang layar. Sebagai sebutan alternatif bagi kapal ini adalah “berkentine” atau “Schooner bark”.

Kapal layar latih KRI Dewaruci merupakan kapal layar pelatihan pertama TNI Angkatan Laut yang telah melatih sejumlah taruna yang di kemudian hari banyak yang menjadi petinggi TNI Angkatan Laut.

KRI Dewaruci sering juga oleh berbagai bangsa yang di kunjungi disebut dengan sebutan Dewa Ruci atau ditulis Dewarutji. Dalam jajaran TNI Angkatan Laut, KRI Dewaruci masuk dalam Satuan Kapal Bantu Komando Armada II.

image: Zul Kifli/Go Cakrawala

Sejarah KRI Dewaruci

Kapal ini tergolong sebagai kapal layar kelas “Tall Ship” dari jenis yang disebut sebagai kapal Barquentine, merupakan kapal layar latih berukuran cukup besar. Selain untuk melatih para taruna Akademi Angkatan Laut, kapal ini juga merupakan “duta bangsa” dalam kunjungannya ke berbagai Negara.

KRI Dewaruci ini dibuat oleh galangan kapal Jerman yang bernama H. C. Stülcken Sohn (juga dikenal sebagai Stülcken-Werft). Berlokasi di Steinwerder, Hamburg dan didirikan oleh Heinrich Christoph Stülcken pada tahu 1846. Kapal layar tiang tinggi tipe Barquentine ini dirancang oleh Adrian Braun.

Mulai dibangun pada tahun 1932, sempat terhenti pembuatannya karena terjadinya Perang Dunia II (1939-1945), dan merusak sebagian besar galangan kapal, termasuk kapal yang sedang dibuat sebelumnya.

image: Ira Indah (WordPress)

Setelah perang usai, pembuatan kapal layar Barquentine tersebut dilanjutkan hingga selesai konstruksinya pada tahun 1952.

Diluncurkan ke perairan pada 24 Januari 1953. Galangan kapal Stülcken-Werft sebelumnya telah meluncurkan dua kapal dari type yang sama. Kapal latih tipe Barquentine sebagai kapal latih dibuat dengan konstruksi khusus sehingga mampu berlayar pada kemiringan 45 derajat.

Kapal Layar tersebut dibeli oleh Pemerintah Republik Indonesia yang belum genap 10 tahun merdeka, Untuk proses pembelian dan penyelesaian kapal, KSAL menugaskan dua Perwira ALRI ke Jerman Barat, yaitu; Kapten A.F.H. Rosenow dan Kapten R.M. Oentoro Koesmardjo.

Setelah proses pembelian, kemudian penyelesaian pembuatan kapal untuk Indonesia diawasi secara langsung oleh Kapten A.F.H. Rosenow yang ditugaskan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) saat itu Kolonel R. Soebijakto.

Rangkaian uji coba melaut dilakukan disekitar Laut Utara hingga Semenanjung Skandinavia sampai akhirnya kapal dinyatakan laik berlayar.

Berikutnya kapal diseberangkan langsung dari Jerman ke Indonesia (24 Januari 1953), dipimpin oleh Kapten A.F.H. Rosenow dan awak kapal personel ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia), termasuk personel Kadet Institut Angkatan Laut (IAL), yang sebelumnya diterbangkan ke Jerman Barat.

Penyerahan kapal secara resmi kepada pihak ALRI dilakukan pada tanggal 2 Oktober 1953 dalam sebuah upacara resmi, pihak Jerman Barat diwakili Kapten Otto von Hattendorf dan dari ALRI diwakili oleh Asisten Personel KSAL Mayor Pelaut Imam Sutopo.

Dan tahun 1954 kapal diberi nama RI (belum KRI) Dewa Rutji, masuk dalam Satuan Kapal Bantu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Nomor: MP/H1254, tanggal 11 Januari 1954.

Sejak tahun 1971, sesuai dengan perubahan yang terjadi, ALRI menjadi TNI AL, dan nama kapal dari RI menjadi KRI, sehingga RI Dewa Rutji menjadi KRI Dewaruci (KRI DWR), namun kapal ini tidak memiliki nomor lambung sebagaimana kapal perang atau kapal non perang (KAL).

Pangkalan di Surabaya (saat itu Komando Armada Kawasan Timur), terakhir masuk dalam jajaran Satuan Kapal Bantu Komando Armada II.

image: Info Gresik Facebook

Spesifikasi Teknis KRI Dewaruci

Resmi di aktifkan sebagai Kapal Latih tahun 1953, dengan identifikasi kapal MMSI number 525002050, call-sign PKOE. Dewaruci memiliki bobot 847 ton (bermuatan penuh: 1.500 ton), panjang 58,3 meter,

Lebar lambung (beam) 9,5 meter, tinggi 36,5 meter, draught 4.05 meter, propulsi 1 buah mesin diesel 986 shp (735 kW) dengan propeller yang memiliki empat bilah baling-baling (catatan akhir: mesin kapal ini berupa 1 unit mesin diesel MWM 440-6K, dua unit mesin diesel MWM 7D 232 – V8).

Kapal dapat berlayar (dengan mesin) dengan kecepatan 10,5 knot, berlayar dengan layar saja dapat berkecepatan 9 knot. Kapal dapat diawaki oleh 81 awak kapal personel pelaut dan 75 kadet (data versi TNI: 110 personel – 78 diantaranya Taruna).

Kapal tidak dilengkapi dengan sistem senjata maupun perangkat elektronika tempur.

image: Kompas Interaktif

Kapal Layar Latih ini memiliki tiga tiang layar dan 16 layar. Tiga tiang layar (three masts) dibreri
nama putera-putera Pandu dari Pandawa, Tiang layar terdepan “Bima” dengan tinggi 3,3 meter (116 kaki). Tiang layar terdiri dari:

  1. Flying jib
  2. Outer jib
  3. Middle jib
  4. Inner jib
  5. Royal
  6. Topgallant
  7. Upper topsail
  8. Lower topsail
  9. Foresail

Tiang Layar Utama (Mainmast), dinamai “Arjuna” dengan tinggi 35,9 meter (118 kaki). Terdiri dari:

  1. Main topgallant
  2. Main topmast staysail
  3. Main staysail
  4. Main topsail
  5. Mainsail

Tiang Layar Penyorong (Mizzenmast) dinamai “Yudistira” dengan tinggi 32,5 meter (107 kaki).Terdiri dari:

  1. Mizzen topsail
  2. Mizzen

Operasional KRI Dewaruci

Kapten Kapal KRI Dewaruci yang pertama adalah Kapten Pelaut August Friederich Hermann Rosenow (1953-1954), Kapten Kapal yang terakhir adalah Letnan Kolonel Laut (P) M. Sati Lubis, S.T., M.Sc. (2021-,,,)

Ada tradisi yang turun temurun dilakukan oleh KRI Dewaruci, yaitu; saat melitas di Selat Sunda, Awak Kapal akan melakukan tradisi upacara tabur bunga. Hal tersebut dilaksanakan untuk menghormati arwah KaptenKapal KRI Dewaruci yang pertama – Kapten August, karena permintaan almarhum agar abu jasadnya ditabur di Selat Sunda.

Dalam kegiatan pelatihan Taruna Akademi Angkatan Laut, setiap tahun kapal ini berlayar keberbagai penjuru dunia dengan tujuan pelatihan “pelayaran bintang” atau “Kartika Jala Krida”.

Marching Band Gita Jala Taruna. Image: Majalah Pandu

Selain melakukan kunjungan muhibah ke berbagai Negara, Kapal latih ini juga pernah mengikuti perlombaan Kapal Layar diberbagai negara. Selain itu, dalam melatih Taruna, kapal ini juga dikenal sebagai Kapal Layar Latih yang memiliki grup marching band yang diberi nama “Gita Jala Taruna).

Kebolehan marching band tersebut cukup memukau dan di ingat, seperti saat mempertontonkan lebolehan dan menghibur masyarakat di Hartlepool (kota pelabuhan besar di Durham, Inggris) di tahun 2010, sehingga dalam Parade Awak Kapal Layar tersebut mereka memperoleh penghargaan sebagai “the best crew in the crew parade.”

Penghargaan bergengsi internasional lainya adalah “Cutty Shark Thropy” saat turut dalam Tall Ship Race di Australia pada tahun 1998. KRI Dewaruci juga turut serta dalam pembukaan acara Manado Fiesta 2019, dikomandani oleh Mayor Laut (P) Hastaria Dwi Prakoso.

image: Matthijs van Wageningen

KRI Dewaruci juga pernah digunakan untuk pembuatan film layar lebar berjudul Anna and the King yang dibintangi oleh aktris terkenal Hollywood Jodie Foster.

Pelayaran muhibah keluar negeri pertama kali dilakukan pada tahun 1957. Pelayaran muhibah keliling dunia dilakukan tahun 1964 dan tahun 2012. Pelayaran tahun 1964 (Maret hingga Oktober 1964) dipimpin oleh Letnan Kolonel Laut (P) Sumantri, mengarungi tujuh samudera serta lima benua. Pelayaran keliling dunia tahun 2012 dipimpin oleh Letnan Kolonel Laut (P) Haris Bima Bayuseto.

Pada bulan Oktober 1986 melakukan pelayaran muhibah ke Amerika Serikat dan Kanada.

Setelah dipensiunkan, KRI Dewaruci yang melegenda dipajang di Museum Angkatan Laut. Pemerintah membeli kapal layar latih yang baru, dan menurut berita akan disematkan dengan nama KRI Bima Suci.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Gimana menurut Lo?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

KRI Usman Harun (359)

KRI Bima Suci