Drone yang Diluncurkan dari Kapal Selam

Sub-to-Air Drone

Selain di terbangkan dari darat, dari dek kapal laut atau dari udara, kini drone juga diluncurkan dari kapal selam, disebut sebagai sub-to-air drone.

Industri asal Israel SpearUAV baru-baru ini memperkenalkan jenis drone produksi terakhir mereka Ninox 103 UW UAS yang diluncurkan dari kapal selam, dapat mengudara selama satu jam, dapat melakukan pengintaian sementara kapal selam tetap dalam posisi menyelam.

Pemilihan wahana peluncuran berupa kapal selam antara lain karena kemampuannya menyelam dengan kedalaman yang cukup, dan jarak tempuh ke wilayah pertahanan lawan dianggap sebagai suatu kelebihan dari sistem kapal selam.

Sub-to-air drone, image: auvsi.org

Dengan dukungan sub-to-air drone yang beroperasi di udara, maka kemampuan deteksi atau pengawasan situasi lingkungan akan semakin meningkat, diluar kemampuan periskop.

Sebetulnya untuk wahana udara sebagai pendukung kapal selam telah dilakukan berbagai percobaan, baik dengan menggunakan gyrocopter hingga pesawat yang diterbangkan dari kapal selam – kapal selam harus naik ke atas permukaan air. Namun masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Akhirnya dicoba untuk menggunakan drone yang dapat diluncurkan dari kapal selam. Sub-to-air drone harus berukuran kecil, dapat diluncurkan tanpa kapal selam harus naik ke permukaan air.

Sub-to-air drone memiliki kamera yang dapat meng-capture gambar situasi lingkungan dan disampaikan ke operator secara real-time, dengan resolusi tinggi dan dalam berbagai kondisi cuaca.

Akhirnya industry drone dari Israel, SpearUAV mengembangkan drone baru mereka setelah sukses dengan Ninox 40, Ninox 66, Ninox VRS, dan Ninox Viper, yaitu Ninox 103 dan Ninox 103 UW (under water).

Drone baru Ninox 103 UW ini dipamerkan dalam acara Undersea Defence Technology yang baru saja diadakan di negeri Belanda. Selain itu, drone ini juga pernah di demonstrasikan dalam acara latihan laut Trident Spectre yang dilaksanakan di lepas pantai Virginia, Amerika Serikat pada tahun yang lalu.

Kini pihak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tengah melakukan program evaluasi drone, termasuk mengevaluasi kemampuan sub-to-air drone Ninox 103 UW.

Kapal selam dalam posisi menyelam dapat meluncurkan kapsul berisi drone Ninox 103 UW ke permukaan air, selanjutnya drone akan meluncur ke udara dari tabung/kapsulnya, sementara operator di dalam kapal selam melakukan observasi atas gambar situasi yang diliput oleh drone.

Ninox 103, drone kapal selam.

Menurut pihak pabriknya, sub-to-air drone Ninox 103 ini juga sulit dideteksi oleh radar, operasionalnya berdasarkan sistem artificial intelligence.

Drone juga dapat menyatu (embedded) dengan jaringan point-to-multipoint, dalam arti; setelah diluncurkan dari kapal selam dan dari kapsulnya, drone atau aerial system dapat berkomunikasi dengan pasukan yang beroperasi disekitarnya/didekatnya.

Dengan demikian drone seolah-olah dioperasikan dari darat dan akan kembali kepada operator di darat.

Percobaan yang pernah dilakukan, kapsul drone Ninox 103 diluncurkan dari kapal selam yang berada sekitar 30 meter dibawah permukaan air – pihak perusahaan menyatakan bahwa peluncuran dapat dilakukan walau kapal selam berada dikedalaman 50 meter dibawah permukaan air.

Walau dikatakan drone dapat beroperasi selama satu jam, namun rekomendasi yang disarankan untuk beroperasi selama 50 menit – bergantung pada kekuatan angin maupun factor lainnya (tidak disebutkan apa factor lainnya itu), jarak komunikasi efekyif sekitar 10 kilometer saat drone terbang melaju dengan kecepatan 20 knot (23 mil per jam).

Daya angkut beban sekitar 1 kg, baik berupa optic atau perangkat misi lainnya. Tidak disebutkan apakah drone ini dapat difungsikan sebagai sarana relay komunikasi, sebagai sarana intellijen atau sebagai loitering munition.

Selain Ninox 103 UW, pihak Spears pada tahun 2022 ini juga bermaksud untuk mendemonstrasikan micro-tactical drone Ninox 40 kepada US Navy bertempat di pesisir Trident, San Diego, California.

Saham dari SpearUAV sebagian juga dimiliki oleh pihak UVision, Israel. UVision merupakan produsen dari loitering munition yang produknya digunakan juga oleh pihak US Marine Corps. Drone dari UVision dengan basis artificial intelligence digunakan juga untuk misi ISTAR (Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaisance).

SpearUAV Ninox 103 Under Water (UW)

Sub To Air Drone Fleksibel

Sub-to-air drone produksi SpearUAV merupakan drone yang kemampuannya mirip dengan drone tradisional, namun pengoperasiannya lebih mudah.

Untuk versi awal seperti Ninox 40, peluncurannya dapat dilakukan secara manual oleh prajurit perorangan dengan ditembakkan dari senjata pelontar granat kaliber 40mm, atau dari kedaraan, pesawat udara atau dek kapal perang.

Setelah keluar dari kapsulnya, drone secapatnya akan mengembangkan empat gagang baling-baling kecilnya sehingga menjadi stabil di udara tanpa bantuan operator.

Drone produksi Spears, Ninox 40 ini disebut juga sebagai quadcopter drone – karena memiliki empat baling-baling.

Karena ukurannya yang kecil dan mengudara/loitering dengan ketinggian yang cukup, sehingga drone Ninox 40 ini tidak menimbulkan kebisingan dank arena ukurannya, juga sulit di deteksi.

SpearUAV Ninox 40

Sub-To-Air Ninox 103 UW (Under Water) Drone

Versi terakhir dari produksi Spears adalah sub-to-air Ninox 103 UW yang dikembangkan dari Ninox 103, airframe dari bahan komposit sehingga bobotnya ringan, dikemas dalam kapsul, untuk digunakan sebagai strategic-tactical drone, diluncurkan secara instant dengan beban angkut hingga 1,5 kg (sebelumnya 1 kg).

Bentuknya yang kecil dan peluncurannya yang mudah, ditujukan agar pengoperasian drone ini dapat seketika sebagai reaksi cepat agar dapat mencapai keunggulan taktis di tengah kekacauan situasi medan pertempuran.

Dalam produksi SpearUAV, darone yang diluncurkan dari kapal selam ini merupakan versi modifikasi dari quadrocopter drone yang di-enkapsulasi.

Ninox 103 flying, image: oceannews.com

Cara kerjanya; setelah diluncurkan dari kapal selam dari bawah permukaan laut, drone yang tersimpan didalam kapsul khusus akan mengapung dipermukaan laut – bias sampai selama 24 jam – sebelum dilontarkan dari dalam kapsulnya oleh operator didalam kapal selam, pada saat dibutuhkan untuk operasional.

Dengan demikian, kapal selam dapat terus melanjutkan perjalanannya menjauh dari lokasi drone mengapung, sebelum drone mengudara dan menjelajah (loitering).

Karena ukurannya yang relative kecil, drone ini memiliki akustik yang rendah, demikian juga dengan penandaan thermal ataupun visual, sehingga sulit di deteksi.

Ninox 103 UW (Under Water), image: oceannews.com

Sesaat setelah mengudara, perangkat sensor berupa Electro Optical/Infra-Red (EO/IR) segera aktif, target dapat segera terdeteksi secara otomatis berkat dukungan teknologi arsitektur artificial intelligence.

Ninox 103 UW menggunakan sistem komunikasi yang terenkripsi dan koneksivitas cross-domain sehingga informasi pengintaian yang kritis dapat secara cepat dikomunikasikan ke tempat pengendalian misi (operator).

Dengan demikian operator di kapal selam dapat menjadikan drone tersebut sebagai kepanjangan kemampuan pandang visual dari periscope, hingga jarak diluar kemampuan garis pandang mana/beyond-line-of-sight situational awareness.

 

SpearUAV

Perusahaan SpearUAV didirikan pada tahun 2017 oleh Gadi Kuperman sebagai industri Pertahanan dan Harware Logic Solver. Gadi sendiri merupakan purnawirawan dengan pangkat terakhir Kolonel dengan pengalaman 30 tahun dalam skadron udara (flying aerial squadron).

Perusahaan memproduksi wahana udara nir-awak atau drone berukuran kecil dengan kemampuan yang optimal untuk mendukung kebutuhan militer, pemerintahan, maupun organisasi sipil.

Drone yang dibuat selain yang diterbangkan dari darat secara mandiri, juga drone yang dikemas dalam kapsul khusus yang dapat ditembakkan dari pelontar granat hingga yang diluncurkan dari kapal selam yang sedang menyelam.

SpearUAV yang berpusat di kota Tel Aviv, juga merupakan pemasok Kementrian Pertahanan Israel. Perusahaan didukung oleh tenaga-tenaga professional dengan latar belakang dari kalangan sipil maupun militer, dengan kecakapan dalam bidang drone, aerospace, artificial intelligence, perangkat lunak, sistem komunikasi, dan sebagainya.

Kombinasi antara pengetahuan teknis, pengalaman lintas kedinasan militer, perkembangan teknologi serta pengkajian atas situas beberapa medan pertempuran.

Perusahaan melakukan penelitian dan pengembangan untuk dapat menghasilkan sub-to-air drone yang fleksibel, efisien dan mudah dioperasikan dari berbagai lokasi peluncuran.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Gimana menurut Lo?

-1 Points
Upvote Downvote

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kapal Transport Militer Semi Submersible China

Senjata Baru untuk F-35