Program Persenjataan Hipersonik

Hari Sabtu pertengahan bulan Mei 2022 yang lalu pihak Angkatan Udara Amerika Serikat telah berhasil melakukan uji persenjataan hypersonic AGM-183 Air-Launched Rapid Response Weapon, sebagai bagian dari Program Hypersonic.

Uji dilakukan di Wilayah perairan California Selatan. Uji kali ini membuahkan hasil dengan keberhasilan meluncurkan misil dari pesawat, sebelumnya tiga kali uji ARRW tahun 2021 yang lalu mengalami kegagalan. Pelaksanaan uji misil AARW telah dilakukan sejak tahun 2020, dan belum membuah hasil yang memuaskan.

Catatan kegagalan uji: Tiga kali kegagalan uji terbang pada tahun 2021 berupa – kegagalan misil meninggalkan pylon pada bulan April, uji di bulan Juli misil berhasil memisahkan diri dari pylon tetapi gagal menembakan booster, dan pada bulan Desember juga mengalami kegagalan pemisahan misil dari pesawat.

Pada saat uji kali ini, Pesawat pembom B-52H Stratofortress meluncurkan misil ARRW, booster segera terpicu (ignited) dan misil melakukan percepatan hingga setidaknya lika kali kecepatan suara (Mach 5).

Kontraktor utama untuk pengembangan ARRW ini adalah perusahaan Lockheed Martin. Pihak Lockheed Martin mengharapkan agar Program ARRW ini dapat mencapai tahap kemampuan operasional pada tahun 2023.

Senjata hypersonic mampu melesat dengan kecepatan hingga Mach 5 dan dalam perjalanan menuju sasarannya dapat bermanuver untuk menghantam pusat pertahanan lawan. Dengan kecepatan yang dapat dicapai, misil ini sulit di jejaki maupun ditangkal.

Dilokasi terpisah, pada pertengahan Maret 2022, pihak US Air Force dan DARPA (Defense Advanced Research Project Agency) menghadiri uji Program Hypersonic lainnya – Hypersonic Air-breathing Weapon Concept – yang masih dirahasiakan.

Pengembangan Senjata Hipersonik

Pihak Lockheed Martin (LM) mengembangkan sejnata AGM-183 ARRW (Air-Launched Rapid Response Weapon) untuk kepentingan pihak US Air Force. Misil menggunakan pendorong motor roket menjelang melayang (gliding) menuju sasarannya, menggunakan boost-glide system.

Untuk pengembangan senjata ini, di tahun 2018 pihak US Air Force telah memberikan kontrak kepada pihak LM senilai US$480 juta, dan pada Juni 2019 dilakukan uji terbang pada misil yang diberi kode AGM-183A ARRW (“Arrow”).

Pengujian yang telah dilakukan sebelum pengeujian yang terakhir antara lain; uji booster flight pada April 2021 di Pusat uji perairan (Sea Range) Point Mugu, di Selatan California, hasilya – tidak sukses (ini merupakan uji yang ke delapan kalinya).

Misil AGM-183A

Mei 2021 dilakukan lagi uji berikutnya untuk sistem avionic, sistem sensor, dan sistem komunikasi ARRW yang diperankan oleh pesawat pembom B-52 yang telah di perlengkapi dengan sub-sistem ARRW, bukan pada prototype misil ARRW.

B-52 terbang dari Alaska menuju Pangkalan Udara Barksdale, Louisiana. Uji ersebut berhasil, Pesawat dapat menerima data target dari jarak sejauh 1.900 km.

Lalu uji terbang kedua untuk misil pada Juli 2021, kembali mengambil tempat di Point Mugu, dengan pengedropan misil dari pesawat B-52. Uji ini mengalami kegagalan karena motor roket tidak dapat terpicu, sama halnya dengan kegagalan pada uji berikutnya pada Desember 2021.

F-35 missile firing, image: US Air Force.

Keberhasilan uji baru terjadi pada pelaksanaan yang dilakukan bulan Mei 2022 yang lalu. Pelaksanaan uji dilakukan oleh Skadron Uji Terbang ke-419 bersama dengan Global Power Bomber Combined Test Force (GPB CTF) menggunakan pesawat pembom B-52H Stratofortress yang tinggal landas dari Lanud Edward, dengan wilayah uji di perairan California Selatan. Prototype ARRW mampu melesat dengan kecepatan lebih dari Mach 5 (6.100 km/jam).

Walaupun ARRW ini masih dalam pengembangan, data perbandingan dengan misil hypersonic Russia 3M22 Zicron menurut beberapa pengamat
antara lain;

  • Kecepatan maksimum AGM-183 ARRW: Mach 20
  • Kecepatan Maksimum 3M22 Zicron : Mach 9
  • Jarak jangkauan AGM-183: 1.000 mil
  • Jarak jangkauan 3M22 : 621 mil
  • Ketinggian jelajah AGM-183: tidak ada data
  • Ketinggian jelajah 3M22 : 91.863 kaki.
  • Platform Peluncur AGM-183: Pesawat pembom B1-B, B-52H, F-15E.
  • Platform Peluncur 3M22 : Kapal Selam atau Kapal Perang Permukaan.
  • Untuk AGM-183, hulu perangnya menggunakan Boost-glide vehicle.

Apakah Kebutuhan akan ARRW sudah Mendesak?

Agaknya pihak Pelaksana Program sangat mendesak agar misil ARRW ini dapat segera diproduksi. Terakhir ini, pemerintah Amerika meningkatkan anggaran untuk pengembangan prototype msil hypersonic dari US$509 juta untuk tahun 2022 dan US$577 juta untuk tahun anggaran 2023.

Namun dalam perencanaan anggaran pembelian/akuisisi US Air Force (USAF) untuk tahun forkal 2023 tidak terdapat alokasi untuk pembelian senjata ARRW.

USAF juga memiliki program pengembangan misil baistik antar-benua generasi baru yaitu program “Ground Based Strategic Deterrent” (GBSD) untuk menggantikan sistem misil Minuteman III. Untuk program ini mereka mendapat peningkatan dana sebesar lebid dari US$3,6 milyar untuk tahun anggaran 2023.

Sejak tahun 2020, telah ditunjuk pihak industri yang memperoleh kontrak untuk pengembangan GBSD ini yaitu Northrop Grumman. Diperhitungkan bahwa untuk program ini dapat mencapat tahap awal kemampuan operasional pada tahun 2029.

Selain itu, USAF juga menginginkan tambahan alokasi anggaran sebesar US$128 juta untuk pembelian 4.200 unit Joint Direct Attack Munition (JDAM), sebagai tambahan dari 1.919 unit permintaan untuk tahun 2021 yang lalu, sehingga alokasi keseluruhan untuk JDAM ini menjadi US $252 juta.

Anggaran berikutnya sebesar US$119 juta untuk pembelian 28 unit Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) yang pada tahnu ini tidak dianggarkan. Program akuisisi tersebut belum termasuk rencana pembelian 525 unit misil jelajah udara-ke-darat (JASSM-ER/Joint Air-to-Surface Standoff Missile Extended Range).

Agaknya pihak USAF masih memiliki rasa keraguan untuk segera menganggarkan pembelian misil ARRW ini, mengingat dari kegiatan uji yang telah dilaksanakan baru satu kali ini mengalami keberhasilan.

Peningkatan Kemampuan Pesawat

Untuk meningkatkan kesiagaan, USAF telah meng-upgrade pesawat pembom strategis jarak jauh B-52 agar dapat terus difungsikam secara efeketif hingga tahun 2050. Mesin pesawat diganti dengan dua unit mesin Rolls-Royce F130 versi militer dari mesin komersial BR725.

Untuk pelaksanaan penggantian mesin ini, Rolls-Royce telah memperoleh kontrak awal/pertama pada tahun September 2021 sebesar US$500,9 juta. Rolls-Royce akan memasok 650 unit mesin dan melakukan penggantian mesin pada 76 unit B-52. Mesin F130 ini merupakan pengganti dari mesin lama – Pratt & Whitney TF33. Program upgrade B-52 ini secara kesuluruhan mendapat alokasi anggaran sebesar US$2,6 milyar.

Pemasangan mesin akan dilakkan oleh pihak Boeing, selaku pembuat dari pesawat B-52. Boeing telah memindahkan beberapa B-52 dengan menggunakan truk dari Pangkalan Udara Davis Monthan di Arizone ke Pusat Logistik Udara di Oklahoma City, dimana pelaksanaan pekerjaan akan dilakukan.

Persaingan Senjata Hypersonic

Agaknya Amerika masih harus terus berupaya keras untuk memperoleh senjata Hypersonic untuk menyaingi Russia. Sementara itu, saingan kekuatan militer Amerika lainnya – Cina – juga tengah melakukan pengembangan senjata misil hypersonic, dan menurut para pengamat telah mencapai perkembangan yang pesat.

Cina mengembangkan heat-seeking hypersonic missile dengan kemampuan menghantam target yang bergerak dengan kecepatan 5 kali kecepatan suara – disebut sebagai 6.174 km/jam. Pengembangan misil hypersonic Cina ini dilakukan di PLA Rocket Force University of Engineering yang berlokasi di Xian. Menurut kepala Tim Peneliti, Yang Xiaogang, pengembangan yang dilakukan telah mengalami progress yang sangat
penting. Tim pengembangan misil ini bersama koleganya dari College of Missile Engineering memiliki waktu pengembangan hingga tahun 2025 mendatang untuk menghasilkan solusi teknologi hypersonic yang mereka laksanakan.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Gimana menurut Lo?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Senjata Baru untuk F-35

Kekuatan Armada Laut Hitam Rusia di Sekitar Ukraina