KRI John Lie (358)

Kapal KRI John Lie (358) ini pada awalnya disebut sebagai kapal jenis korvete kelas Nakhoda Ragam yang dibangun untuk Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam oleh industri militer terkemuka di Inggris, BAE Systems, Scotstoun, Scotland, berdasarkan kontrak pada tahun 1995.

Saat itu Kesultanan Brunei memerlukan tiga kapal perang jenis OPV (Offshore Patrol Vessel). Dibangun dengan dasar rancang-bangun corvette F2000, hasil rancangan Yarrow Shipbuilders Limited of Glasgow, kemudian nama galangan tersbut menjadi BAE Systems Surface Ships.

image: Wikipedia

Rancang-bangun F2000 juga diadopsi oleh kapal perang Malaysia kelas Lekiu (KD Lekiu dan KD Jebat diluncurkan pada tahun 1994 dan 1995), namun konfigurasinya berbeda dengan Kelas Bung Tomo.

Kapal dibuat untuk beroperasi di daerah tropis, sehingga tidak dilengkapi sistem pemanas ruangan, serta sarana akomodasi disesuaikan dengan ukuran tubuh orang Asia.

Spesifikasi Teknis KRI John Lie (358)

Kapal KRI John Lie (358) berukuran panjang 95 meter (LOA) 89,9 meter (LWL), lebar (beam) 12,8 meter, draught (sarat air kapal) 3,6 meter, memiliki bobot standar 1.940 ton dan bobot bermuatan penuh 2.300 ton. Diawaki oleh 79 personel pelaut (penumpang dapat di tambah hingga 24 orang).

Sistem propulsi CODAD (combination diesel and diesel) menggunakan mesin diesel 4 unit MAN B&W / Ruston, dua shaft, dengan total output 30,2 MW. Mampu menjelajah dengan kecepatan maksimum 30 knot.

Jarak tempuh maksimum dengan kecepatan ekonomis 12 knot sejauh 5.000 mil laut. Kapal juga dilengkapi dengan sistem komputer kendali IPMS (Integrated Platform Management System) yang juga dapat mendeteksi apabila terdapat/terjadi kerusakan pada salah satu perangkat di kapal.

Persenjataan KRI John Lie (358)

Meriam utama dari kapal KRI John Lie (358) ini adalah meriam OTO-Melara Super Rapid Gun kaliber 76mm, dua kanon DS30M Mk.2 REMSIG kaliber 30mm, 16 peluncur vertikal SAM VSL MBDA MICA dari BAE Systems.

Untuk pesanan Kesultanan Brunei dilengkapi 2 unit 4 (quad) peluncur misil MBDA (Aerospatiale) MM-40 Block II Exocet, dua unit peluncur torpedo (triple tube launcher) BAE Systems 324mm Mk.32 untuk meluncurkan torpedo Mk.46.

Kapal memiliki tempat pendaratan pesawat helikopter yang pada awalnya diperhitungkan untuk satu unit pesawat helikopter jenis Eurocopter AS565 Panther atau S-70B Seahawk, tanpa hangar.

Kelengkapan perangkat sensor berupa; pengarah senjata electro-optik Ultra Electronic/Radamec Series 2500, Radar permukaan BAE Systems Insyte AWS-9 3D, radar tracker BAE Systems Insyte 1802SW, Radar navigasi Kelvin Hughes Type 1007, radar deteksi permukaan Thales Netherland scout radar, ECM Thales Netherland Sensor Cutlass 242, serta hull mounted sonar Thales TMS 4130C1.

Setelah kapal di komisi sebagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), kapal diberi nama KRI John Lie dengan nomor lambung 358 (kapal ini awalnya oleh pihak Brinei diberi nama Bendahara Sakam.

Pemberian nama John Lie sebagai penghormatan bagi almarhum Laksamana John Lie (John Lie Tjeng Tjoan yang bersama dengan Jahja Daniel Dharma merupakan keturunan Tionghoa yang bergabung dalam grup milisi saat perang kemerdekaan).

Setelah Republik Indonesia medeka, John Lie bergabung dengan TNI Angkatan Laut hingga pensiun pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda TNI, dan atas jasanya kepada negara, John Lie dianugerahkan Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Suharto, dan mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009.

Dimasa pensiunnya John Lie aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial, dikediamannya di flat TNI Angkatan Laut Jalan Purnawarman, Jakarta, almarhum setiap pagi menyantuni puluhan orang yang kurang atau tidak mampu dengan memberi makanan serta uang.  Almarhum wafat pada tahun 1988.

https://koarmada1.tnial.mil.id/galeri/detail/28-kri-john-lie-358

Operasional KRI John Lie (358)

KRI John Lie sebagaimana KRI Bung Tomo dan KRI Usman Harun, merupakan korvet multi peran yang merupakan salah satu unsur kekuatan Komando Armada TNI Angkatan Laut.

Di masa damai ini operasional kapal, selain kegiatan patroli pengamanan perairan yurisdiksi nasional Republik Indonesia, juga kegiatan latihan dalam upaya peningkatanan kemampuan baik kapal maupun personil.

KRI John Lie memperkuat Komando Armada I (Dahulu Komando Armada Barat), bersama KRI Bung Tomo pada 13 April 2013. KRI John Lie turut serta dalam latihan bersama US Navy CARAT 2015.

https://www.mod.go.jp/msdf/en/exercises/src/2020/50.html

Saat pesawat Sriwijaya Air 182 jatuh ke laut, KRI John Lie turut serta dalam operasi pencarian korban.

Mei 2021, KRI John Lie berhasil menyelamatkan anak buah kapal Singapura MT St. Katherinen yang jatuh ke laut diperairan Laut Natuna saat kapallayar dari Rusia menuju Malaysia. Dengan upaya SAR tersebut, KRI John Lie berhasil menyelamatkan ABK tersebut atas nama Avoldin Artem.

Saat pemerintah Kamboja meminta bantuan untuk memburu kapal tanker MT Strovolos yang ditengarai mencuri minyak dari Kamboja (24 Juli 2021), KRI John Lie turut dikerahkan oleh pihak TNI Angkatan Laut ke Laut Kepulauan Anambas, Provinsi Riau, dan akhirnya berhasil menahan kapal MT Strovolos yang berbendera Bahama, membawa 297.686.518 barrel minyak mentah.

Tentunya masih banyak lagi sejarah operasional KRI John Lie ini.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Gimana menurut Lo?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

KRI Bung Tomo (357)

KRI Usman Harun (359)