Senjata Baru untuk F-35

Selain melakukan pertempuran udara dan menghancurkan titik-titik persenjataan pertahanan musuh, pesawat tempur F-35 juga ditujukan untuk mendobrak pertahanan luar (area defence) pihak lawan atau biasa juga disebut sebagai Anti Access/Area Denia (A2/AD).

Dalam wilayah A2/AD biasanya terdapat kekuatan seperti artileri pertahanan udara yang dipersenjatai senjata penangkis udara, sistem senjata misil anti serangan udara yang terintegrasi, radar pertahanan, peralatan jammer GPS, sistem anti satelit, dan medan ranjau.

Sedangkan di area pesisir juga dapat ditempatkan senjata misil anti kapal permukaan atau misil permukaan-ke-permukaan, barikade, maupun medan ranjau.

US Air Force  memiliki rencana untuk mendapatkan sistem senjata misil udara-ke-darat yang dapat diluncurkan dari jarak jauh – jarak diluar jangkauan sistem senjata pertahanan udara lawan – dalam hal ini dapat diluncurkan dari pesawat tempur Joint Strike Fighter F-35 Lightning II.

Untuk terlaksananya hal tersebut, pada tanggal 25 Mei 2022 yang lalu US Air Force telah menanda-tangani kontrak perancangan senjata untuk Joint Strike Fighter F-35 Lightning II kepada pihak Lockheed Martin, L3Harris Technologies, dan Northrop Grumman.

Untuk kontrak Tahap Ke-I ini, masing-masing industri mendapat kontrak senilai US$2 juta untuk memulai perancangan sistem senjata yang akan digunakan untuk menghancurkan sistem persenjataan pertahanan udara lawan – Air-to-Ground stand-in attack weapon (SiAW).

F-35 missile firing, image: US Air Force.

Dalam waktu tiga bulan tersebut, pihak industri sudah harus menyerahkan konsep rancang bangun SiAW secara detil.  Konsep SIAW ini sudah diajukan juga oleh pihak USAF sebagai dokumen pendukung pengajuan alokasi anggaran Tahun Fiskal 2023 untuk tahap pertama sebesar US$78 juta, untuk pembelian 42 unit sistem senjata tersebut.

USAF berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran sebesar US$1,9 milyar untuk lima Tahun Fiskal (hingga T.A. 2027) guna pengembangan sistem senjata SiAW.

Menurut penjelasan yang disampaikan oleh pihak Northrop Grumman, Sistem senjata SIAW diluncurkan dari pesawat tempur F-35 menuju sasaran dari jarak jauh.

Pesawat F-35 membawa sistem senjata SIAW ini didalam tempat penyimpanan persenjataan “weapon bay”  bukan pada hard-point/external mount, sehingga kondisi stealth pada pesawat dapat dipertahankan.

Dengan demikian, pesawat tempur yang dapat membawa sistem senjata SIAW ini harus memiliki weapon bay yang cukup besar.

Stand-in weapon system juga harus memiliki kecepatan jelajah yang lebih cepat dari sistem senjata lainnya yang dibawa oleh pesawat tempur F-35, sehingga dapat mengenai sasaran sebelum pihak lawan melakukan intercept.

SIAW, image: defensenews.com

Perancangan Senjata F-35

Yang melakukan perancangan sistem senjata misil SiAW di Lockheed Martin dilakukan oleh divisi Missile & Fire Control, mengadopsi proses enjinering digital modern yang dirintis  oleh unit Skunk Works. Misil SiAW akan meluncur (volley-launched) dan dipandu menuju sasarannya secara simultan.

Menurut beberapa pengamat persenjataan, sistem senjata SiAW akan mengambil dasar rancang bangun misil US Navy Advanced Anti-radiation Guided Missile (AARGM), yang medupakan derivative pengembangan misil udara-ke-darat anti-radiasi AGM-88 HARM.  Hulu ledak dan sumbu pemicunya dapat memperbesar efek kerusakan pada sasaran.

Pihak Northrop Grumman akan memanfaatkan pengalamannya dalam pengembangan dan produksi misil untuk pesawat tempur.  Kemungkinan yang akan ditempuh dengan mengambil dasar misil US Navy AARGM-ER (Advanced Anti-Radiation Guided Missile-Extended Range).

Dipihak L3Harris Technologies pengembangan rancang bangun distem senjata SiAW ini dilakukan oleh Agile Development Group dengan memanfaatkan teknologi enjinering digital.

Anti Access/Area Denial

Sistem pertahanan daerah terlarang atau Anti-Access/Area Denial (A2/AD) merupakan sistem pertahanan atau bagian dari pertahanan maupun strategi yang digunakan untuk menahan serangan musuh yang akan menguasai atau melintasi wilayah territorial darat, laut, dan/atau udara wilayah yurisdiksi yang dipertahankan.

Pada masa Perang Dunia ke-II, dikawasan pantai Eropa atau kawasan perbatasan banyak dibuat barikade pertahanan berupa fragon teeth – beton berbentuk piramida kecil – atau Chech hedgehogs – rangkaian tiga batang besi sejenis beam yang kokoh – dimana tujuan keduanya adalah untuk merintangi gerak maju pasukan tank.

Beberapa senjata area denial dapat mengakibatkan risiko yang berkepanjangan bagi orang yang memasuki area tersebut, contohnya; dalam perang Afghanistan, pihak Russia banyak menebarkan ranjau kupu-kupu dari bahan plastik yang besarnya kurang dari separuh telapak tangan orang dewasa.

Ranjau kupu-kupu biasa ditebarkan dalam jarak tertentu dekat markas-markas pasukan Russia, atau jalan-jalan di pegunungan yang sering dilalui manusia.

Demikian juga dengan penyebaran Caltrop (jackrock atau crow’s foot) berupa jalinan kawat duri atau paku berukuran kecil dan ujung-ujungnya sangat tajam, banyak disebar di daratan saat perang Vietnam.

Tujuannya untuk menghambat gerak maju pasukan musuh.  Sebaliknya, pihak Vietnam Utara banyak membuat jebakan-jebakan yang disebut sebagai Bobby-Trap atau Punji-stick untuk menghambat gerak maju pihak Amerika Serikat dan Vietnam Selatan.

Pada era Perang Iraq dan Afghanistan A2/AD antara lain berutama ranjau darat dan IED – improvised explosive devices.

Area denial di laut, biasanya menggunakan ranjau laut, sedangkan untuk anti-access bagi kapal perang lawan, selain ranjau laut tentu saja sistem senjata pertahanan yang mampu menghalau maupun menghancurkan kapal perang permukaan maupun bawah air yang akan masuk kedalam wilayah territorial yang dipertahankan.

Sedangkan yang dimaksud dengan Area Denial (AD) merupakan kawasan yang menurut laporan intelijen sebagai wilayah operasi yang sangat ketat pengawasannya – atau wilayah operasi yang tidak bersahabat.  Area ini diawasi dengan sistem sensor dan radar yang lengkap termasuk sistem peringatan dini.  Sarana pengganggu frekuensi gelombang elektronika hingga GPS.

Mengapa F-35

Keputusan US Air Force untuk menambah jenis sistem persenjataan untuk Pesawat Tempur F-35, disesuaikan dengan cetak biru sistem pertahanan udara jangka panjang.  Peralihan dari pesawat tempur generasi ke-4 menuju generasi ke-5, dan dari generasi ke-5 menuju perencanaan pesawat tempur generasi ke-6 yang saat ini sudah mulai dirintis.

F-35 Lightning II mampu membawa persenjataan seberat 22.000 lbs (mendekati 10 ton) yang dipasang/disimpan pada 10 titik penyimpanan (station) – dua internal bay dan enam hard point di bawah sayap, serta dua fuselage pylon.

Dirancang untuk mampu melakukan penetrasi dengan baik atas ancaman A2/AD modern – menghancurkan target pertahanan lawan.  Selain itu, teknologi stealth yang diterapkan pada F-35 juga dianggap yang terbaik pada saat ini.

Guna mempertahankan kekebalan terhadap deteksi radar (stealth) dari F-35, maka SiAW yang dibuat oleh ketiga Industri yang telah mendapat kontrak untuk perancangan harus dapat disimpan pada weapon bay pesawat.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Gimana menurut Lo?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Drone yang Diluncurkan dari Kapal Selam

Program Persenjataan Hipersonik