Sukhoi SU-34 Fullback, Jet Tempur Penggempur Ukraina

Pesawat Sukhoi sudah terkenal dengan kemampuan manuvernya dengan sistem engine vector nozzle yang belum tertandingi. Bahkan akhir-akhir ini kehadiran Sukhoi SU-57 cukup spektakular dan diperhitungkan oleh pihak NATO.

Banyak Negara independent yang tertarik untuk memiliki dan mengoperasikan pesawat Sukhoi namun karena adanya tekanan dari negara adi-kuasa akhirnya urung untuk memiliki pesawat Sukhoi.

Salah satu jenis pesawat tempur dari Sukhoi adalah Su-34 yang oleh NATO diberi nama Fullback. Pesawat bermesin ganda ini diawaki oleh dua orang penerbang yang formasi tempat duduk didalam cockpit berdampingan.

Pesawat ini dgolongkan sebagai medium-range fighter bomber/strike aircraft.

Sukhoi SU-34 Fullback merupakan pesawat yang mulai dikembangkan dipertengahan era 1980an, oleh Sukhoi Design Bureau, namun kiprahnya termasuk baru, karena baru masuk dalam jajaran Angkatan Udara Russia pada tahun 2014.

SU-34 Fullback dikembangkan dengan dasar keunggulan SU-27 Flanker, memiliki armoured cockpit, dirancang untuk melakukan serangan terhadap target di darat dan permukaan laut – peran sebagai pembom taktis, serang, interdiksi – termasuk menghadapi target berukuran kecil dan target bergerak.

Melakukan misi serbu baik sendiri maupun berkelompok, baik siang maupun malam hari, dan dalam berbagai kondisi cuaca. Awal pengembangan menggunakan rancangan pesawat latih Angkatan Laut T10KM-2 yang merupakan derivative dari Su-27K, kemudian dikenal sebagai pengembangan T-10V.

Pesawat ini juga dirancang untuk menghadapi peperangan elektronika, melakukan serangan balasan, dan pengintaian udara. SU-34 merupakan pengganti dari pesawat tempur serbu taktis SU-24 dan pembom jarak jauh TU-22M.

SU-34 Fullback, dikenal dengan sebutan Hellduck atau Platypus, saat ini selain dioperasikan oleh Angkatan Udara, juga oleh Angkatan Ruang Angkasa – Russian Aerospace Forces. Di tahun 1977, Russia mencari pengganti Su-24 Fencer, mereka mulai mencoba memodifikasi Su-27.

Percobaan terus berlangsung hingga 1986, dimana dicoba untuk mengembangkan Strike Flanker yang dikenal juga sebagai Su-27IB (IB – Istrebitel-Bombardirovshchik/fighter bomber).

SU-34 Fullback

Prototype Su-27IB atau “42 Blue” dibuat oleh Sukhoi Design Bureau Joint Stock Company di fasilitas kerja di Moscow menggunakan airframe pesawat latih Su-27UB, posisi tempat duduk di cockpit mulai dirubah dari posisi tandem menjadi posisi sebelah-menyebelah.

Pada 13 April 1990 pesawat percobaan mulai di uji terbang. Adanya perubahan politik Uni Soviet menjadi Russia, menjadikan program ini terhenti.

Saat itu unit produksi di Novosibirsk sudah memasuki tahap produksi (Novosibirsk Aircraft Production Association). Su-34 memiliki dimensi; panjang keseluruhan 23,34 meter, tinggi 6,36 meter dan bentang sayap 14,05 meter.

Desember 1993 – Januari 1994 seri jet produksi Novosibirsk diperkenalkan dengan sebutan Su-34. Pesawat segera diuji untuk avionic dan persenjataannya.

Akhirnya perjalanan panjang berujung pada tahun 2000, dimana seri produksi baru dilengkapi dengan radar sehingga mampu di coba untuk menembakan misil anti-kapal permukaan.

Tahun berikutnya enam unit SU-34 diserahkan untuk di uji di fasilitas uji Akhtubinsk. Hasil uji dan evaluasi, pihak Angkatan Udara Russia pada tahun 2003 menyarankan beberapa revisi.

Pelaksanaan penyempurnaan ternyata cukup memakan waktu, selain dilakukan penyempurnaan dan percobaan, pada tahun 2008 saat terjadi perang di Georgia, Russia menerbangkan dua pesawat SU-34 ini (pesawat ke tujuh dank e delapan) untuk melakukan jamming terhadap radar pertahanan udara Georgia.

Tahun 2011, Su-34 dinyatakan layak untuk diadopsi sebagai pesawat tempur Angkatan Udara Russia, hingga di tahun 2014 Su-34 Fullback resmi menjadi Asset Pesawat Tempur AU Russia. Jumlah pesawat mencapai 140 unit, termasuk yang dioperasikan oleh Angkatan Ruang Angkasa Russia.

image: Russia Beyond.

Ciri Hidung SU-34 Fullback

Hidung SU-34 Fullback disebut sebagai hidung Platypus, nose-cone tersebut berupa suite Sh141 buatan perusahaan Leninets yang merupakan kombinasi radar V004 dengan ECM Khibiny, serta IFF yang terangkum melalui computer misi.

Radar V004 menggunakan antenna massive passive electronically scanned array (PESA) yang beroperasi pada X-band, dengan kemampuan menjejaki 10 target udara pada saat yang bersamaan melakukan penetralisiran terhadap empat dari target tersebut secara simultan. Dapat mendeteksi obyek sebesar pesawat tempur pada jarak 75 mil.

Juga dilengkapi dengan RWR (radar warning receiver) berupa Pastel radar yang dapat dioperasikan untuk targeting, mendeteksi emitter ancaman dan kemudian menetralisirnya dengan misil anti-radiasi (AS-17 Krypton/Kh-31P).

Untuk target kapal perang permukaan, dapat dideteksi oleh radar ini dalam jarak lebih dari 80 mil, atau kendaraan truck yang sedang melaju di jalan raya pada jarak 19 mil. Diyakini bahwa kemampuan radar dan perangkat sensor yang digunakan oleh Su-34 milik AU Russia memiliki kemampuan melebihi apa yang diuraikan disini. Karena data yang diberikan tersebut utamanya untuk versi ekspor.

SU-34 Cockpit, image: ausairpower.com

Cockpit Hellduck

Seperti diutarakan sebelumnya, konfigurasi tempat duduk cockpit yang berbeda, tempat duduk awak sebelah-menyebelah, pilot pada kursi sebelah kiri dan kursi sebelah kanan untuk navigator merangkap operator persenjataan.

Kursi dilengkapi dengan kursi lontar ‘zero-zero’, dimana kursi akan melontar keluar cockpit setelah explosive charge memecahkan canopy. Awak pesawat masuk ke cockpit melalui nosewheel bay, tidak melalui atap canopy.

Karena Su-34 ini diproyeksikan untuk misi masuk kewilayah musuh yang berbahaya, cockpit dikemas berupa ‘kotak’ yang terbuat dari bahan titanium alloy dengan ketebalan lebih dari 0,6 inci.

Cockpit dilengkapi dengan lima LCD multi-fungsi berukuran cukup besar, selain HUD untuk pilot. Interaksi awak pesawat dengan pesawat didukung dengan K-102 targeting and navigation suite, termasuk perangkat avionic yang dirancang dan diproduksi oleh perusahaan Ramenskoye. K-102 beroperasi berdasarkan central computer, data display system, Laser/TV sight, navigation suite dan sistem lainnya. Sebagai backup, terdapat instrument analog, termasuk GPS.

Laser Targeting System

Sistem pentarget sasaran berupa Laser/TV Platan (Sycamore) merupakan kunci bagi Su-34 untuk melakukan serangan terhadap sasaran di darat secara akurat baik pada siang maupun malam hari.

Sistem Platan akan melakukan pemanduan terhadap munisi laser, baik bersi udara-ke-permukaan maupun laser-guided freefall bomb – yang terbesar adalah KAB-1500: yang berbobot 3.300 pon.

Tail Sting

Su-34 memiliki sirip-sirip ekor yang ukurannya terlihat lebih besar dibandingkan pesawat Sukhoi lainnya. Ampak menjorok kebelakang, kearah luar engine exhausts.

Beberapa pengamat dirgantara Barat/NATO beranggapan bahwa tonjolan di ekor pesawat (tail sting) berisikan radar peringatan untuk mendeteksi adanya ancaman dari belakang pesawat, atau juga berupa magnetic anomaly detector (MAD). Namun hingga saat ini anggapan tersebut tidak terbukti.

Ada juga yang beranggapan bahwa tonjolan di ekor pesawat tersebut berisikan auxiliary power unit (APU), karena adanya gril exhaust pada tabung tersebut. Seperti diketahui, APU berfungsi sebagai pemasok daya AC untuk men-drive sistem pendingin di dalam cockpit pesawat pada saat berada di landas pacu.

Pada tonjoloan besar di ekor/tail boom terdapat perangkat pelindung diri berupa delapan dispenser countermeasure yang masing-masing berisikan chaff atau flare.

Mesin Pesawat SU-34 Fullback

Produksi awal Su-34 menggunakan dua mesin turbofan after-burner NPO Saturn AL-31F. Produksi berikutnya menggunakan mesin MMPP Salyut AL-31F-M2/3 atau NPO Satyrn 117.

Mesin dipasang dibawah sayap dan dipasangi dengan all-duty fixed geometry air intakes. Pelindung rotor diinstalasi pada air intake untuk memberikan perlindungan terhadap masuknya benda asing yang dapat merusak mesin.

Mesin Jet SU-34 Fullback, Saturn AL-31 Engine, image: Wikipedia

Kecepatan yang dapat dicapai 1.900 km/jam (Mach 1,6) pada ketinggian terbang, dan 1.300 km/jam (Mach 1) pada batas ketinggian permukaan air laut (sea level), dengan jarak tempuh 4.000 km.

Dua tanki bahan bakar internal – masing-masing terletak pada bagian sayap dan empat pada badan badan pesawat (fuselage) dengan kapasitas total 12.100 kg bahan bakar. Untuk misi jarak jauh, pesawat dapat dipasangi tiga tanki bahan bakar eksternal berkapasitas 3.000 liter.

Saturn AL-31F. Merupakan mesin modular turbofan dua-shaft yang terdiri dari generator gas – terdiri dari kompresor dan turbin bertekanan rendah dan bertekanan tinggi, annular combuster, afterbudrner dan nozzle, gear box dan sistem control.

Kompresor termasuk 4-stage module bertekanan rendah dan 9-stage modul bertekanan tinggi.

Mesin menggunakan turbin dua tingkat (bertekanan tinggi dan bertekanan rendah) dengan radial clearance yang dapat disetel karena adanya ekspansi thermal. Menggunakan annular combuster dan supersonic variable-area nozzle. AL-31F merupakan versi thrust vectoring nozzle.

Modernisasi pada mesin AL-31F termasuk pemasangan sistem control digital model FADEC (full authority digital engine control). Kemampuan akselerasi bertambah dan lebih efisien. Dirancang sebagai mesin modular.
Karakteristik Mesin:

  • Full afterburner trust: 12.500 kgf.
  • Konsumsi spesifik bahan bakar (minimum) 0,67 kg (kgf-h)
  • Panjang 4.845 mm
  • Diameter inlet 905mm
  • Berat kering 1.520 kg (+2%)
image: thedrive.com

Landing Gear

Saat masih berupa prototype Su-27IB, landing gear utama berupa satu roda, terlihat sama dengan yang terdapat pada pesawat Su-27. Namun setelah menjadi produksi pengembangan terjadi perubahan peningkatan pada landing gear utama, terdapat dua roda pada setiap unit. Setiap roda utama menggunakan roda dengan diameter 37,4 inci.

Perkuatan pada landing gear menjadi kebutuhan karena bobot takeoff pesawat bertambah dari 73.000 pon menjadi 99.000 pon, dan sesuai dengan doktrin tempur Russia, pesawat harus dapat tinggal landas dan mendarat pada landasan pacu yang keras maupun yang sedikit kasar.

Jamming Pod

Pada suatu saat Sukhoi mengantisipasi membuat satu varian khusus pesawat pengintai dan escort-jamming dari Fullback, sama seperti versi awal Su-24, yang menghasilkan versi Su-34R dan Su-34P.

Su-34R memiliki internal side-looking radar, dan perangkat pengintai lainnya. Sementara itu Su-34P dibuat dengan dasar perangkat jamming Kavkaz (Caucasus). Namun kedua program ini ternyata memakan biaya yang cukup tinggi. Sehingga pihak Angkatan Udara Russia memutuskan untuk beralih kesistem peralatan dengan pod saja.

SU-34 Jamming Pod, image: Made In Russia (Facebook).

Pernah dibuat unit Su-34 versi pengintai dengan peralatan yang dipasang dalam eksternal pod. Perangkat sensor utama berupa side-looking radar Pika, dengan kemampuan sapuan hingga 37 mil untuk kawasan daratan dan lebih dari 75 mil untuk wilayah lautan luas.

Pod electro-optical dimuati dengan kamera tv dan scanner infra-merah. Pod ketiga dimuati dengan sistem sinyal intelijen. Setiap pod memiliki wideband datalink untuk mengirim data ke darat dalam tempo real-time.

SU-34 sudah memiliki kemampuan jamming dengan sistem proteksi Khibuny yang dapat digunakan untuk mengganggu radar pertahanan udara lawan. Ruang untuk pemasangan sistem Khibiny tersebut berada didalam badan pesawat dibelakang bagian cockpit, termasuk tambahan pod pada ujung sayap.

Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi, mengklasifikasi, dan melokalisir emitter radar, termasuk men-jam emitter tersebut.

Untuk memperkuat kemampuan jamming pesawat jet, dan untuk menghindari kegagalan, Su-34P, dapat dipasang empat unit pod jamming yang terpasang di bawah sayap, terintegrasi dengan rangkaian Khibiny.

Artinya dengan menggunakan pod tersebut pesawat akan lebih memiliki daya jamming dengan frekuensi yang lebih besar.

Orisinal jamming pod Khibiny seri L175 dapat diganti dengan seri L700 Tarantul yang lebih canggih lagi. L700 juga terpasang dalam bentuk pod yang lebih besar, dipasang dibawah badan pesawat.

Setelah sukses dengan Su-34 Fullback, pihak Russian Aerospace Force terus mengembangkan pesawat tersebut, masuk dalam program Su-34M upgrade dengan meningkatkan kemampuan jet dan modifikasi pada sistem radar, untuk target dan navigasi, dan persenjataan baru.

Pihak Angkatan Udara Russia juga sudah melakukan uji pesawat ini dengan kombinasi pod pengintai dan penentu target, dikembangkan dibawah program Such (little owl). Program ini terlihat lebih inovatif.

Persenjataan SU-34 Fullback

Persenjataan yang nmelekat pada Su-34 berupa autocannon GSh-30-1 (Gryazev-Shipunov) kaliber 30mm berikut 180 butir munisinya, dipasok oleh Tula Design Bureau. Pesawat ini memiliki 10 hard point untuk memuat persenjataan termasuk AAM, ASM dan misil anti-radiasi, bom, dan rocket. Dibantu dengan target designator yang ada di pesawat.

Misil AAM jarak pendek R-73 (AA-11 Archer) dari Vympel State Engineering Desgn Bureau, Moscow. Misil ini dapat menghancurkan target udara berkecepatan 2.500 km/jam dalam jarak 0,02 km hingga 20 km.

Misil AAM jarak jauh RR-77 (AA-12) juga produksi dari Vympel. Misil dapat mengintercept target udara berkecepatan 3.600 km/jam pada jarak 0,02 km hingga 25 km. RR-77 versi long-range terbaru dapat mencapai jarak sasaran hingga 150 km.

Precision-guided bomb, bom konvensional, roket, termasuk laser-guided bomb KAB-500 dipasok oleh Region State Research and Production Enterprice, Moscow.

Sistem kendali penembakan Su-34
Su-34 memiliki sistem pengendali penembakan persenjataan dengan sistem elektro-optikal yang dipasok oleh Urals Optical and Mechanical Plant (YOM3) serta pod untuk FLIR Geofizika berikut FLIR-nya. Sistem radar jenis phassive phased array dan TsNIRTI EC suite dari Leninetz, St Petersburg.

Sejauh ini Pesawat Sukhoi telah mengalami banyak perubahan dan modernisasi, yang awal-awalnya dikenal sebagai striker “One-Way-Ticket”, kini menjadi pesawat yang cukup disegani di kalangan penerbang tempur.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Gimana menurut Lo?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rudal Iskander Rusia Hantam Buk Ukraina

Pasukan Linud Rusia di Kiev, Ukraina.