Visitors Counter
serving 489896 visitor
Who's Online
We have 4 guests online
eQuotes
“You can not simultaineously prevent and prepare for war.” Albert Einstein
|
Home
|
Bursa Industri Pertahanan Dephan |
|
|
|
|
Written by Christopher James
|
|
Wednesday, 18 January 2006 |
Industri Pertahanan Dalam Negeri Berupaya Mengembangkan
Produk-Produk Unggulan
Jakarta, DMC - Direktur Utama PT. Pindad, Dr. Ir. Budi Santoso,
mengatakan bahwa PT. Pindad saat ini mulai mengembangkan senjata dan
peluru besar kaliber 20 mm dan 76 mm, serta kendaraan pertahanan jenis
APR dan APS. Sementara itu, untuk kendaraan pertahanan jenis APS sesuai
permintaan TNI sebanyak mungkin adalah buatan dalam negeri.
"Jadi ini adalah pengembangan dari senjata ringan dan menengah, dan
semua ini tergantung dari kontinuitas. Bagi Litbang pengembangan
produk-produk tersebut memerlukan anggaran yang cukup besar," ungkap
Direktur Utama PT. Pindad, Dr. Ir. Budi Santoso kepada pers disela-sela
Stand Pameran Bursa Peralatan Pertahanan, Kamis siang (12/1), di
Lapangan Apel Dephan RI, Jakarta Pusat.
Sebagaimana diketahui, dalam Bursa Pameran Industri Pertahanan, PT.
Pindad memamerkan produk antara lain : APS 2-VI, Rantai Tank Scorpion
dan Senjata SS-2.
Dijelaskan oleh Budi Santoso, untuk mengembangkan senjata SS-2
dibutuhkan waktu tiga tahun lebih, karena untuk industri semacam ini
bukan sesuatu yang instant. "Kita mulai dari mendidik orang mengenai
filosofi produknya, memilih proses produksinya, dan proses desainnya.
Jadi proses ini memerlukan waktu," papar Budi Santoso.
Budi Santoso lalu menjelaskan, PT. Pindad mulai tahun 1996 sudah tidak
mengunakan tenaga asing, PT. Pindad mendidik sendiri tenaga pribumi dan
mulai tahun 2001 sudah mulai mengerti dan mendesain peralatan sendiri.
Menurut Budi Santoso, kendala yang dihadapi PT. Pindad, semua diminta
instant, padahal untuk mengembangkan sesuatu perlu biaya. Kalau biaya
pengembangan bisa dibayar terlebih dahulu oleh pemerintah, kemudian
nanti diganti dengan produk jadinya, itu bisa berjalan lebih cepat.
"Jadi, PT. Pindad tidak bisa sekaligus memproduksi banyak, karena untuk
menganggarkannya butuh waktu," paparnya.
Dijelaskan pula, saat ini PT. Pindad sedang mengembangkan senjata
kaliber 9 mm, termasuk dengan cailencer (tanpa suara) yang digunakan
untuk pasukan khusus. Untuk jenis pistol, sedang dikembangkan P-2, dan
dikembangkan pula varian standard dan varian akurasi tinggi. Sementara
untuk peluru, sedang dikembangkan peluru dengan akurasi yang lebih
tinggi dari yang standar.
Dari hasil kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa watu
lalu ke Bandung, jelasnya lagi, ini merupakan kabar baik bagi semua
Bumnis. "Kita akan diberi multi years kontrak jangka panjang, sehingga
kita bisa merencanakan kira-kira apa yang diperlukan pada awal tahun,
dan kita bisa langsung membuat produknya," paparnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT. PAL, Muhammad Moenir menjelaskan,
untuk PT PAL saat ini hanya membuat kapal patroli pesanan Bea Cukai,
sedangkan untuk Angkatan Laut mulai tahun 2006, akan membuat dua kapal
jenis Landing Ship Dok (LPD), yaitu kapal untuk mengangkut Helikopter
dan kapal pengangkut pasukan. "Itu nanti bulan Juni baru dimulai,"
ujarnya.
Dalam Pameran Bursa Industri Pertahanan, PT. PAL menampilkan produk
antara lain maket kapal korvet nasional, maket FPB-57 NAV I, KPC-14 M,
Tug Boat 2.400 HP, maket kapal penumpang cepat 160 penumpang, maket
kapal tanker 17.500 LTDW dan general engineering.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Muhammad Moenir, untuk kapal korvet
nasional tinggal menunggu kontraknya, sedangkan mengenai desainnya
sudah siap. "Kalau desainnya sudah siap dan kontrak sudah ada, tinggal
melaksanakannya," paparnya.
Korvet nasional ini memiliki panjang 90 meter dengan kecepatan 25 knot,
diharapkan dalam waktu 18 bulan bisa selesai. "Jadi pembuatan kapal
menggunakan multi years," paparnya lagi.
Menurut Muhammad Moenir, potensi pasar PT. PAL cukup besar, hanya
masalahnya kalau hanya berpikir membeli dari luar negeri memang tidak
ada peningkatan di dalam negeri, tetapi pemerintah sudah bertekad untuk
menumbuhkan kemampuan industri dalam negeri.
Untuk tahun 2005 sampai 2009, order PT. PAL banyak yang datang dari
luar negeri. Ini membuktikan bahwa harga dan kualitas produk dalam
negeri sudah tidak diragukan lagi. "Mereka tahu kalau PT. PAL dapat
membuat kapal yang berkualitas dan harganya kompetitif dengan negara
manapun," jelasnya.
Negara seperti Jerman, Turki, Italia dan Hongkong sudah memesan
kapal-kapal produk PT. PAL. "Mereka pesan jenis kapal pengangkut curah
Balcarien 50.000 ton, dan kapal Cemikel tanker," jelas Muhammad Moenir
lagi.
Dijelaskan pula, saat ini PT. PAL sedang menjajaki kerjasama dengan
galangan kapal lain yang ada di Indonesia. PT. PAL sampai 2005 sudah
membuat kapal perang 57 meter sebanyak 12 kapal dan kapal Fast Patroli
Boat 28 (FPB) sebanyak 30 kapal, bahannya ada yang dari almunium,
kombinasi almunium dan kayu. "Masalah teknologinya tidak masalah,
pemerintah sudah niat, tinggal sekarang realiasasinya," paparnya.
Pada kesempatan yang sama, Dir. Teknologi PT. Dirgantara Indonesia
(DI), Mochajan, menjelaskan, saat ini PT. DI sedang mengembangkan
Pesawat N-219 sekelas Twin Otter atau Cassa C- 212, dan hal ini masih
merupakan konsep dan prototype. Selain itu, sedang dikembangkan pula
pesawat jenis baru, yaitu Pesawat Trainer yang merupakan pesawat latih,
namun masih merupakan konsep dan belum jelas kapan akan diproduksi.
"Pesawat N-219 memuat 19-20 orang, dan cocok untuk pesawat angkut
pasukan," tuturnya.
Pada Pameran Bursa Industri Pertahanan, PT. DI menampilkan produk
antara lain Pesawat Model CN 235, Pesawat Model CN 235 MPA, Helikopter
Model NBO 105, Helikopter Model NBell 412, Helikopter Model NAS 332,
Flight Simulator Model dan Model UAV.
Mochajan lebih lanjut menjelaskan, untuk mencukupi kebutuhan dirgantara
ada upaya-upaya dari DI, seperti TNI AU akan menggantikan Armada
Skuadron Foker 127 dengan Pesawat CN -235, Skuadron 6 Helikopter buatan
tahun 60-an, akan digantikan dengan Helikopter Super Puma. Dari TNI AD
sendiri, tadinya mengunakan Cassa 212, dan sekarang ditawarkan Cassa
219, sedangkan untuk TNI - AL butuh Helikopter, sementara Polisi
kemungkinan menggunakan Helikopter Super Puma.
Berkaitan dengan banyaknya karyawan PT DI yang di PHK, Mochajan
menjelaskan, karena produksi turun sementara karyawan banyak, maka PT.
DI mengurangi sejumlah karyawan. "Nanti begitu pesanan datang bisa
dipanggil lagi," paparnya. (EKS/MAW/RHT)
Comments () |
 |
|
|
|
Powered by Azrul's Jom Comment |
|