Visitors Counter

serving 489749 visitor

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Who's Online

We have 3 guests online

Random Image

Polls

Menurut Anda, bagaimana kekuatan angkatan bersenjata kita?
 

eQuotes

This notion of a "Christian" nation, and our constant lip service to "freedom and justice for all" have made our country a sick joke in the rest of the civilized world. Our history of violence against women, blacks, Native Americans, immigrants, dissenters, and religious minorities surfaces through every crack in our national foundation. No sooner do we identify a "threat" or an enemy, whether it is believers in Islam, abortion providers, immigrants, or marijuana users, than someone is proposing rounding them up, putting them in jail or worse.

Doug Nelson, truthout.org

Syndicate

Home
ANCAMAN TERLIHAT DAN TIDAK TERLIHAT

Pertempuran udara moderen melibatkan mandala visible (terlihat) dan invisible (tidak terlihat) dan akan lebih membutuhkan pesawat tempur maupun pesawat pendukung dan kini bahkan juga melibatkan helicopter dan penerbangan sipil.

Pada awal sistem pertahanan rudal, persenjataan dipandu menuju sasaran secara remote (jarak jauh) dari pangkalan didarat atau pada radar udara (airborne radar). Kini banyak jenis rudal yang sudah dilengkapi dengan sistem kendali sendiri ataupun semi-mandiri dengan perangkat sensor pada rudal itu sendiri. Ancaman rudal akan terus ada, tetapi dapat dibedakan dari yang konvensional dan non-konvensional, dibandingkan dengan yang asimitris, berupa senjata yang sangat canggih yang membutuhkan dukungan pemeliharaan yang sangat baik.

Ancaman dari senjata berpenuntun radar tetap tumbuh dan tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Pertahanan utama dari pesawat berupa radar penerima peringatan (radar-warning receiver/RWR), yang kini sudah umum dipasang pada pesawat tempur, baik pesawat sayap tetap maupun pesawat sayap putar (helicopter), dan juga pada pesawat pendukung yang beroperasi diarea pertempuran.

Penerima peringatan menggunakan baik crystal video atau instantaneous frequency measurement receivers untuk mendeteksi frekuansi gelombang radio pada jangkauan yang diperkirakan untuk pengoperasian senjata berkendali seperti I/J-band (1 sampai 18 GHz). Pada generasi pertama, peringatan  kehadiran lawan diudara didahului dengan kehadiran pada pandangan awak pesawat (vicinity), lalu dilanjutkan dengan sistem yang tidak saja memberikan peringatan suara (dalam konflik Indochina dikenal dengan istilah ‘Sam song’), tetapi juga dengan indikasi arah ancaman.

Kebanyakan sistem penerima yang ada saat ini menampilkan proses pengendalian dengan sistem digital dan tanda-tanda sinyal yang memberikan pilot tidak saja perinagatan (alert) dan indikasi ancaman, tetapi juga situasi berikutnya (latter’s nature).  Hal ini dilakukan dengan membandingkan sinyal yang diterima dengan daftar catatan ancaman (threat library yang sudah dipersiapkan kedalam sistem oleh teknisi, hal ini merupakan data pendukung yang sangat penting dalam mendukung operasi udara), yang berisikan parameter selerti panjang gelombang, repitisi frekuensi pulsa dan lebar pulsa baik radar pihak sendiri maupun yang diperkirakan sebagai lawan.

Salah satu masalah utama untuk area seperti di Eeropa Barat, kini juga dikawasan Dunia Ketiga, adanya berbagai emitter yang sangat banyak dan bervariasi – termasuk komunikasi radio, dan sistem komunikasi nir-kabel dan radar air traffic control – yang menimbulkan kepadatan gelombang elektronik.  Hal ini dapat menimbulkan kesulitan tersendiri bagi detector radar maupun menimbulkan peringatan palsu (false alarm) sehingga menggaggu awak pesawat.  Sistem haruslah cukup sensitive untuk mendeteksi ancaman, walaupun situasinya cukup tidak nyaman.

Salah satu jenis Radar Warning Receiver (RWR) yang telah digunakan secara luas adalah AN/APR-39A dari BAE Systems North America/Northrop Grumman Electronic Systems, versi digital dari AN/APR-39 analog yang memiliki bobot antara 7 dan 16 kg. Perangkat sensor kebanyak digunakan pada pesawat helicopter seperti AH-1 Cobra dan AH-64 Apache, UH-60 Blackhawk dan UH-1 Iroquois dan juga pesawat transport seperti C-130 Hercules.  Sistem ini terdiri dari prosesor sinyal digital, dua penerima H/M-band (6 sampai 100 MHz) dengan jangkauan terus-menerus, sepasang antenna/detektor spiral, satu blade antena C/D-band (0,5 sampai 2 GHz) untuk data tentang status emitter yang terdeteksi, indicator sinyal radar dan set unit kendali deteksi. Prosesor sinyal menyatu dengan mikroprosesor sistem kendali utama, prosesor video, layar saji dan articulated audio unit, multiplexer, penerima C/D-band,  power supply dan user data module untuk memprogram alat sensor.

Perubahan dari alat penerima moderen tidak saja ditampilkan oleh APR-39 tetapi juga dari ALR-2002 dari BAE Systems Australia (bobot 30 kg).  Terdiri dari empat penerima quadrant, penerima low band, data processor, track and interface processor dan layar saji azimuth indicator. Arsitektur dual receiver dikatakan untuk memberikan kemampuan mendekati 100 persen kemungkinan untuk intercept semua jenis emitter dan densiti. Ini merupakan bagian dari program upgrade F/A-18 Hornet dan pelengkapan helikopter S-70A-9 Blackhawk dan CH-47D Chinook.

 
Mi-17 'Hip' UPGRADE

Pasukan Pertahanan Udara Macedonia atau Macedonian Air Defence Force (Makedonsko Voeno Vozduhoplovstvo i Protivvozdusna Odbrana atau VV i PVO) telah melakukan peningkatan kemampuan pesawat helikopternya yang diperoleh dari Rusia antara lain Mil Mi-8MT, Mi-17 dan disusul dengan upgrade Mi-24V.

Pelaksanaan upgrade yang dipercayakan kepada Elbit Systems dari Israel, akan meningkatkan kemampuan untuk operasional pada siang dan malam hari.  Dua unit Mi-17 yang sudah diupgrade kembali operasional di Bosnia-Herzegovina mulai januari 2007.

Perangkat baru yang melengkapi Mi-17 ‘Hip-HS’ ini antara lain sistem Aviator Night Vision Head-up Display 24 (ANVIS/HUD-24), seluruh layour cockpit, ruang kargo dan sistem lampu ekternal untuk disesuaikan dengan pengoperasian teropong malam (NVG). Modernisasi dilakukan untuk memenuhi standar NATO terutama untuk operasi terbang malam hari.

 
PEMBINAAN INDUSTRI STRATEGIS NASIONAL

Menarik disimak sebuah wawancara televisi (Q-channel dan Channel Swara) antara host dengan tiga nara sumber; Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan, Wakil Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Direktur Utama PT. LEN Industri.  Intinya mengenai Industri Strategis (Pertahanan) dalam Negeri dalam mendukung kebutuhan TNI.


Hal yang cukup menarik disimak adalah penjelasan dari Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan yaitu, industri strategis dalam negeri adalah Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis atau BUMNIS.


Hal kedua adalah, akan dialokasikannya sebagian porsi anggaran Kredit Ekspor tahun anggaran 2006-2009 menjadi alokasi untuk porsi Industri Strategis Dalam Negeri.  Dan kini mekanismenya sedang disusun oleh pemerintah.   Hal ini merupakan angin segar bagi industri strategis nasional (BUMNIS).


Lalu dimana posisi industri swasta yang memiliki kemampuan dalam memproduksi peralatan militer atau kebutuhan TNI?


POSISI BUMNIS.  Saat ini Indonesia memiliki 10 BUMNIS, antara lain; PT. Dirgantara Indonesia, PT. PINDAD, PT. PAL Indonesia, PT. Krakatau Steel, PT. LEN Industri, PT. Dahana, PT. INTI, PT. Bharata Metal Work, PT. INKA, dan PT. Boma Bisma Indra.


Pada masa krisis moneter, Indonesia menandatangani perjanjian dengan Badan Dana Moneter Internasional (IMF) dengan salah satu syarat bahwa pemerintah tidak lagi memberikan subsidi kepada BUMNIS, terutama PT. Dirgantara Indonesia (PT. IPTN), karena dianggap merupakan pemborosan.  Namun oleh sebagian kalangan persyaratan tersebut diartikan sebagai pengkerdilan perkembangan kemampuan industri strategis nasional.


Saat ini Departemen Pertahanan memiliki tugas tambahan yaitu sebagai pembina Industri Strategis/Pertahanan.  Hal ini dituangkan dalam Pasal 16  Undang-undang  No. 3 tahun 2002, tentang tugas Menhan untuk mebina Industri Strategis/Pertahanan untuk kepentingan pertahanan.


Departemen Pertahanan juga telah mengupayakan untuk mencari rumusan yang terbaik dalam upaya pembinaan tersebut, antara lain dengan dilakukannya Round Table Discussion pada awal tahun 2005, namun hal ini tidak lagi terdengar kelanjutannya.

 

 
K4ISR SISTEM KOMANDO - KENDALI

Sistem Komando dan Kendali (Kodal) dalam operasional system pertahanan merupakan salah satu pendukung manajemen dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari, baik dalam masa damai maupun pada masa krisis, sehingga pelaksanaan operasional akan lebih efisien dan efektif.


Efisien dan efektif juga berarti terjamin dalam segi keamanannya, terutama dalam jaring komunikasi data, gambar dan suara.  Juga dapat mengantisipasi efek dari peperangan elektronika (pernika).


“ Komando dan Kendali merupakan prosedur yang digunakan pengorganisasian secara efektif dan pengarahan bagi angkatan bersenjata untuk menyelesaikan misinya.”


“ Sistem Komando dan Kendali adalah peralatan, fasilitas dan personel yang diperlukan bagi komandan untuk melaksanakan efektifitas komando dan kendali angkatan bersenjata.”


Sistem Kodal sudah dikenal sejak jaman dahulu, dari yang sangat sederhana, yaitu sistem kentongan dikampung-kampung untuk memberikan peringatan dini, sampai yang moderen yang dikembangkan pada saat ini yaitu system K4ISR (Komando-Kendali-Komunikasi-Komputer-Intelijen-Surveillance-Reconnaisance).


Untuk membentuk sistem Kodal diperlukan berbagai persyaratan mendasar seperti, arsitektur dari sistem yang akan digelar, ketersediaan data startegis awal sebagai pendukung berjalannya jaringan.  Teknologi yang sudah ada dan yang akan diterapkan, sampai pada pola operasional yang akan digelar.  Kesiapan personil yang mampu mengoperasikan peralatan.


Arsitektur dari sistem akan memberikan mekanisme untuk pengertian dan mengenal kompleksitasnya.


Misalkan K4ISR akan dioperasikan pada suatu Markas Utama dan jaring sudah terpasang di Komando Utama yang tersebar di seluruh wilayah pertahanan.  Markas Utama disebut sebagai Induk Kodal, dan Markas Komando Utama merupakan cabang (remote) dari Induk Kodal.


Dalam gelar operasi, unit-unit operasional patroli rutin akan melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari dengan dukungan data operasi yang tersedia dari pusat data di Induk Kodal, dimasukkan dalam pola operasi yang telah disusun sebelumnya. Katakanlah patroli yang dilakukan merupakan patroli laut yang dilaksanakan oleh sebuah kapal patroli bersenjata.
 

Saat patroli sudah berjalan sekitar satu jam, radar diruang operasi kapal patroli menangkap suatu obyek-X dan segera dianalisa sampai akhirnya obyek tersebut diketahui sebagai kapal militer asing.  Idealnya data yang diperoleh disampaikan ke Markas Komando Utama induknya untuk segera dianalisa guna merencanakan tindakan lanjut bagi unit kapal patroli tersebut.  Sampai tahap ini umumnya akan dijumpai situasi dimana data pendukung di Induk Kodal maupun di Markas Komando Utama tidak lengkap, maka sistem K4ISR akan terhambat dan justru akan menimbulkan kesulitan tersendiri.

Untuk negara-negara yang dukungan industri strategisnya masih kurang maju, kendala yang akan dihadapi dalam menerapkan K4ISR adalah dari segi teknologi peralatan, dan dukungan data operasi, selain kualitas personil.  Belum lagi alat utama sistem senjata yang ada juga tidak mendukung.


Hal ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut; gelar satuan radar dari radar pertahanan udara menangkap suatu obyek yang pada tahap awal dilaporkan sebagai Laporan Sasaran X (Lasa-X), dalam waktu sekian detik kemudian Lasa-X sudah diketahui sebagai Laporan Sasaran pasti (Lasa) sebagai pesawat militer asing yang melintas diwilayah teritorial dan setelah dicek tidak memiliki ijin terbang diwilayah udara teritorial nasional.


Setelah dikontak dan diberi peringatan untuk keluar dari wilayah teritorial, Lasa ternyata tidak mengindahkan, maka Komando Pertahanan Udara akan segera menyiapkan batere Hanud dan Skadron Pesawat Tempur untuk menyongsong Lasa untuk diusir.  Disini akan timbul kendala apabila; Sista Hanud tidak memadai untuk menghadapi Lasa, atau Skadron Pesawat Tempur tidak memiliki kesiapan untuk mengudara.


Atau, Skadron Pesawat Tempur tidak memiliki dukungan senjata pada pesawat untuk menghadapi Lasa.  Maka sistem K4ISR yang nilainya sangat mahal akan tidak berguna.

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>