Visitors Counter

serving 489747 visitor

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Who's Online

We have 2 guests online

Random Image

Polls

Menurut Anda, bagaimana kekuatan angkatan bersenjata kita?
 

eQuotes

The most beautiful thing we can experience is the mysterious.

Albert Einstein

Syndicate

Home
MERIAM ARTILERI 155MM GERAK SENDIRI

CAESAR - THE TRUCK MOUNTED ARTILLERY SYSTEM

Kaliber 155mm, panjang laras (caliber) 52.
Harga per unit : US$. 5,541,667.00
Manufacture: GIAT Industries, Perancis.

CAESAR dirancang sebagai alternative meriam 155mm gerak sendiri dari 155 AM F3 yang dipasang pada platform tank ringan AMX-13. Rancang bangun didasari atas kebutuhan unit satuan tembak yang dapat bergerak dengan cepat dan awak senjata terlindung pada saat meriam berpindah tempat. Dibangun dari senjata artileri yang sudah lulus uji seperti senjata AM F3, GCT AUF1 kaliber 155mm meriam artileri gerak sendiri dan meriam tarik 155mm TRF1, CAESAR merupakan kombinasi optimal dari keduanya.

CAESAR dibuat untuk melengkapi grup pasukan reaksi cepat, pada tahap awal pembuatannya, platform yang digunakan adalah truck taktis Unimog type U-2450 6x6, namun sejak tahun 2004 dikembangkan platform baru yaitu truck dari Renault Truck Defence.  Oktober 2005 penulis diperlihatkan oleh pihak RTD di Paris (tempat pengembangan RTD dan GIAT Industries, mengenai pengembangan Caesar pada platform truck Sherpa-5, 6x6 dari RTD.   Truck Sherpa sendiri memiliki mobilitas yang sangat tinggi.

 
RAYTHEON BERHASIL UJI PROYEKTIL ARTILERI BARU

Excalibur merupakan proyektil artileri generasi terbaru untuk Angkatan Darat dan Korps Marinir Amerika Serikat.  Disebut juga sebagai proyektil tes Guided Series-6 dari Excalibut Blok Ia-2, terdiri dari dua konfigurasi inert round dengan tactical base bleed dan live base bleed.  Base bleed merupakan bahan bakar solid yang akan terbakar pada dasar proyektil, menghasilkan gas yang mengurangi helaan yang hasilnya akan memperbesar jarak.

Tujuan utama dari pengetesan proyektil ini adalah untuk mendemonstrasikan fungsi navigasi melalui pelintasan dengan base bleed dan untuk verifikasi penampilan base-bleed.  Proyektil ini memiliki sistem kendali GPS. (GPS-Guided).  Pengujian proyektil ini berhasil dengan baik, base bleed dengan charge lima dapat melontarkan Excalibur sejauh 40 km (24,8 mil).

 
YJ-8, RUDAL JELAJAH BASTAR DARI TIMUR

Berbasis rudal jelajah anti kapal kondang Exocet dan Harpoon, China sukses merancang dan membuat rudal jelajah YJ-8. Hasil pengembangannya dipakai mempersenjatai armada kapal perang dan pesawat tempur AB China. Varian ekspornya tengah dilirik salah satu negara ASEAN. 

Rudal jelajah YJ(Ying Ji =Sambaran Elang)-8 merupakan hasil riset institusi penelitian dan pengembangan (litbang) AL China CHETA (China Hai Ying Electro-Mechanical Technology Academy) yang bernaung di bawah bendera Akademi Riset Militer Ketiga Tentara Pembebasan Rakyat China dan berlokasi di kawasan tenggara ibukota China, Beijing. Sistem senjata ini mulai dirancang pada awal dekade 1970-an guna menjawab kebutuhan AL China akan rudal jelajah anti kapal berukuran kecil nan mutakhir sebagai pengganti rudal jelajah anti kapal HJ-2 Silkworm yang spesifikasi teknis dan kinerjanya mengacu penuh pada rudal jelajah SS-N-2 Styx buatan Rusia. Dari serangkaian kajian teknis terhadap berbagai jenis rudal jelajah terkemuka, maka CHETA akhirnya memutuskan rudal AM-39 Exocet buatan Perancis dan AGM 84 Harpoon buatan AS selaku acuan.

Proses ‘kelahiran’ YJ-8 sejatinya dimulai pada bulan Oktober 1973 di saat CHETA sukses membuat motor roket berbahan bakar padat untuk menghasilkan tenaga gerak YJ-8. Pembangunan purwarupanya usai di tahun 1980. Namun saat diuji coba, sistem kendali luncur dua dari tiga rudal mengalami kerusakan hingga rudal gagal mencapai sasaran. Setelah sempat dibekukan beberapa saat, program riset YJ-8 kembali menggeliat pada awal tahun 1982. Di bulan September 1985 CHETA  melansir YJ-81 setelah sukses melewati enam kali uji coba penembakan dengan berbagai jenis landas luncur. AL China mulai mengadopsi YJ-81 pada tahun 1988 untuk mempersenjatai kapal patroli cepat kelas Houdong dan kapal frigat tipe 053H2 (kelas Jianghu-5). Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menjulukinya sebagai CSS-N-4 Sardine.

Meski awalnya dirancang untuk berbasis di atas geladak kapal permukaan, tapi CHETA telah memodifikasi YJ-81 hingga dapat diusung oleh kapal selam (varian YJ-81Q) dan pesawat tempur (varian YJ-81K). Tak puas hanya dengan YJ-81, CHETA lantas melanjutkan riset rudal YJ-8 hingga berhasil membuat YJ-82 yang jangkauan jelajahnya melebihi YJ-81. Seperti leluhurnya, YJ-82 yang dijuluki pihak NATO sebagai CSS-N-8 Saccade ini pun dimodifikasi agar bisa dipakai berbagai wahana perang. Kapal perusak tipe 113 (kelas Luhu) dan tipe 051B (kelas Luhai) menjadi kapal perang permukaan pertama yang dipersenjatai YJ-82. 

CHETA melansir empat varian hasil modifikasi YJ-82 yakni YJ-82K (berbasis di pesawat tempur)(1985), YJ-82Q (di kapal selam)(1987), YJ-22 (di darat), dan KD-82 (di pesawat tempur tapi untuk sasaran di darat). Kemampuan KD-82 diklaim ‘setara’ rudal SLAM (Stand-Off Land Attack Missile) buatan AS generasi terbaru. CHETA juga tak lupa mendisain versi ekspor YJ-8 dengan spesifikasi teknis dan kinerja sedikit di bawah versi induk. Nama yang disandang C-801 untuk YJ-81 dan C-802 untuk YJ-82 di mana ragam variannya juga serupa dengan versi induknya. Korea Utara, Iran, dan Pakistan diketahui telah memiliki aneka varian C-801 dan C-802 sejak sejak awal dekade 1990-an. Bahkan pada penghujung tahun 1999 Korea Utara dan Iran sukses meningkatkan derajat akurasi perkenaan sasaran C-802. Kini tengah menyusul salah satu negara ASEAN tengah menjajaki kemungkinan mengadopsi C-802 guna melengkapi persenjataan varian terbaru kapal patroli cepat buatan sendiri yang selama ini hanya mengandalkan kanon kaliber 57 milimeter.

Belakangan tersiar kabar, secara swadana pada pertengahan dekade 1990-an CHETA telah menerbitkan generasi ketiga YJ-8 yang dinamai YJ-83 dengan jangkauan jelajah hampir dua kali lipat jangkauan jelajah YJ-82 berikut dua turunannya yakni YJ-83 K dan YJ-85 (rudal jelajah serang sasaran darat berbasis di udara) serta satu versi ekspor (C-803). Rudal jelajah supersonik ini pertama kali muncul di depan publik pada parade hari nasional 1 Oktober 1999. Perancangnya mengklaim perangkat pemandu dan sistem terima-olah data YJ-83 jauh lebih baik jika dibandingkan YJ-82. Alat penentu ketinggian jelajahnya pun diremajakan hingga menjadi lebih canggih. Rudal YJ-83 diaplikasikan pertama kali pada kapal frigat tipe 053H3 (kelas Jiangwei). Setelah beberapa suku cadang perangkat lunaknya dimodernisasi, salah satu turunannya (YJ-83 K) kini dipakai pada hampir semua jenis pesawat dan helikopter patroli bahari AL China.

Uniknya, prestasi tempur YJ-8 justru bukan diukir AL China tapi oleh kelompok militan Hizbullah saat menghadapi serbuan pasukan Israel di Lebanon pertengahan tahun 2006 silam. Untuk mematahkan blokade laut AL Israel di perairan Lebanon, maka pada tanggal 14 Juli 2006 kelompok Hizbullah berniat merusak (minimal) salah satu kapal perang Israel. Sadar jika setiap kapal perang Israel pasti dimodali aneka perangkat bela diri canggih, maka kelompok Hizbullah menembakkan secara bersamaan dua unit rudal C-802 agar perangkat identifikasi kawan-lawan kapal Israel terkecoh. Upaya cerdik ini berhasil. Di saat satu rudal kena cegat perangkat chaff  INS Hanit, rudal lainnya nyelonong masuk dan tanpa ampun menghajar telak lambung kapal perang dari kelas Saar-5 itu. Empat pelaut Israel pun tewas. 

 
USMC MENAMBAH PESANAN MRAP

Diberitakan bahwa Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) dalam hal ini Marine Corps System Command, telah memesan tambahan sekitar 90 unit kendaraan anti ranjau (MRAP – Mine Resistant Ambush Protected) dari jenis RG33 buatan BAE Systems North America.  Kontrak senilai US$. 55,4 juta diumumkan pada tanggal 15 Februari 2007 yang lalu.  Hal ini dikemukakan oleh jurubicara MCSC Bill Johnson-Miles.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>