Visitors Counter

serving 489880 visitor

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Who's Online

We have 4 guests online

Random Image

Polls

Menurut Anda, bagaimana kekuatan angkatan bersenjata kita?
 

eQuotes

Nationalism is an infantile sickness. It is the measles of the human race.

Albert Einstein

Syndicate

Home
ALUT SISTA RUDAL

Menarik sekali dalam salah satu komentar di Militerium.com ada pertanyaan mengapa Indonesia tidak mengoperasikan rudal dengan jarak sampai 1.000 km (seribu kilometer) dan juga diungkapkan mengenai kemampuan sumber daya manusia nasional dengan banyaknya mantan pekerja PT. IPTN (Kini PT. Dirgantara Indonesia) yang bekerja di luar negeri antaranya disebut di Boeing.

Indonesia merupakan kegara kepulauan dengan wilayah terbesar adalah udara disusul dengan kawasan laut baru kawasan daratan.  Secara logika keberadaan Rudal jarak jauh dapat diterima, tetapi konsekuensinya untuk dioperasikan di Indonesia apabila terjadi kesalahan pentargetan sasaran akan terkena wilayah nasional sendiri.

Sementara itu untuk Rudal dengan kemampuan jarak mencapai 1000 km sudah dapat dikatakan sebagai rudal balistik (theater ballistic missiles).  Sementara ditinjau dari kebutuhan dengan prakiraan ancaman yang ada, masih belum dirasa perlu untuk memiliki theatre ballistic missiles.  Sistem pertahanan rudal masih difokuskan kepada pertahanan obyek-obyek vital baik instalasi sipil maupun militer.

Dengan demikian Alut Sista Rudal yang digelar cukup dari kategori jarak pendek atau jarak sangat pendek (dalam system rudal hanud disebut sebagai SHORADS atau V-SHORADS/Short-Range Air-Defence Syetem atau Very Short-Range Air-Defence System) dengan kemampuan jarak tembak mematikan antara 1 sampai 9 km.

 
MEWASPADAI PEMBELIAN ALUT SISTA BEKAS

MASALAH EMBARGO PERALATAN MILITER TERUTAMANYA ALUT SISTA (ALAT UTAMA SISTEM PERSENJATAAN) MENJADI MASALAH BESAR DALAM MEMELIHARA KEMAMPUAN SEBUAH ANGKATAN BERSENJATA. 

 
F-16 versi JEPANG dan ISRAEL

Image

PESAWAT TEMPUR F-16 TERNYATA MERUPAKAN PILIHAN DARI ISRAEL DAN JEPANG UNTUK DIKEMBANGKAN SENDIRI BAGI KEPENTINGAN KEKUATAN ANGKATAN UDARANYA.  PENGEMBANGANNYA TETAP MELIBATKAN PIHAK PEMBUATNYA LOCKHEED MARTIN DARI AMERIKA SEREIKAT

JEPANG.  DALAM RANGKA MEMENUHI KEBUTUHAN PESAWAT TEMPUR MODEREN BAGI PASUKAN BELADIRI UDARA JEPANG (JAPAN AIR SELF DEFENCE FORCE/JASDF), PEMERINTAH JEPANG MEMBERIKAN KEPERCAYAAN KEPADA INDUSTRI MITSUBISHI HEAVY INDUSTRIES SEBAGAI KONTRAKTOR UTAMA UNTUK PENGEMBANGAN PESAWAT TEMPUR BARU MEREKA.  TERNYATA PIHAK MITSUBISHI MAMPU MERANCANG DAN MEMBUAT PROTOTYPE PESAWAT TEMPUR MODEREN YANG CANGGIH.  NANUM KARENA ADANYA SUATU PERJANJIAN PEMBATASAN PRODUKSI PERALATAN MILITER DENGAN AMERIKA SERIKAT PASKA PERANG DUNIA KE-2, JEPANG AKHIRNYA MENDAPAT IJIN DARI PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT UNTUK MEMBUAT PESAWAT TEMPUR DENGAN STANDAR F-16 DENGAN MENGGANDENG PIHAK LOCKHEED MARTIN AERONAUTICS COMPANY SELAKU PRINSIPAL SUB-KONTRAKTOR.

 
PESAWAT ANGKUT TAKTIS

Superioritas diudara merupakan salah satu aspek pemenangan pertempuran.  Superioritas diudara dapat dicapai apabila sebuah angkatan bersenjata memiliki kekuatan udara yang kuat dan moderen dan memiliki daya gempur yang tinggi.  Hal tersebut adalah merupakan salah satu dalil konvensional yang dianut.  Namun tidak kalah pentingnya dengan armada pesawat angkut berat yang mampu memindahkan bukan saja personil tetapi juga perlengkapan dan bekal logistic yang diperlukan guna mendukung suatu operasi pertempuran dimana daerah operasi berada jauh dari daerah basis.

Selain itu, pesawat angkut berat juga banyak manfaatnya dalam masa damai, atau dioperasikan dalam operasi selain perang.  Dapat dilihat ketika terjadi bencana alam dan badai Tsunami di Sumatera Utara, Aceh dan Pulau Nias.  Bagaimana mobilitas yang tinggi dari pesawat angkut berat militer dari berbagai Negara dapat membantu para korban bencana.

Demikian juga dalam operasi tempur seperti yang dilakukan oleh aliansi pasukan pimpinan Amerika Serikat di Iraq.  Pesawat angkut strategis dalam satu minggu awal operasi Pembebasan Iraq (Iraqi Freedom) telah melakukan ratusan sortie guna mendukung operasi pasukan tempur diwilayah tersebut.  Demikian juga dalam operasi di Afganistan, sampai-sampai pasukan AS untuk mengirim pesawat helicopter serbu jenis AH-64D Apache harus menyewa pesawat angkut berat jenis Antonov.

Terbukti bahwa pesawat angkut strategis menjadi tulang punggung dalam sebuah operasi jarak jauh baik dalam operasi tempur maupun dalam operasi bukan tempur.

 
<< Start < Prev 11 12 Next > End >>